Narasi Tenggelam dalam Makna "Parasit Semesta"
Parasit Semesta Pagi ini si Bulat Merah Jingga belum mengklaim tahta di langit borneo sepenuhnya. Ia hanya mengintip malu dari balik sebuah mata angin yang konon disebut orang ufuk Timur. Tidak benderang, tapi cukup untuk menampilkan pigmen coklat yang menjadi ciri khas air sungai di hampir seluruh pulau ini. Warna itu tak lain berasal dari campuran tanah gambutnya dan zat warna dari perakaran banir yang menopang tanah sekaligus memberi kelok pada sungai. Salah satu lekukan akar itu tengah menopang posisi duduk bersender tubuh kurcaciku dengan nyaman saat ini. Sahut-sahutan kicau berbagai jenis burung, suara satwa endemik lain-yang bahkan belum kuketahui namanya, serta riak air sungai mencipta alunan simphoni alam yang menggema harmoni dalam rimba ini. Namun juga notabene kerap terabaikan karena hiruk-pikuk keseharian kita. Tak cukup sampai di sana, alam seolah tengah memamerkan keelokannya melalui desir angin sejuk yang sarat aka...