Narasi Tenggelam dalam Makna "Parasit Semesta"
Pagi ini si Bulat Merah Jingga belum mengklaim tahta di
langit borneo sepenuhnya. Ia hanya mengintip malu dari balik sebuah mata angin
yang konon disebut orang ufuk Timur. Tidak benderang, tapi cukup untuk
menampilkan pigmen coklat yang menjadi ciri khas air sungai di hampir seluruh
pulau ini. Warna itu tak lain berasal dari campuran tanah gambutnya dan zat
warna dari perakaran banir yang menopang tanah sekaligus memberi kelok pada
sungai. Salah satu lekukan akar itu tengah menopang posisi duduk bersender tubuh
kurcaciku dengan nyaman saat ini.
Sahut-sahutan
kicau berbagai jenis burung, suara satwa endemik lain-yang bahkan belum
kuketahui namanya, serta riak air sungai mencipta alunan simphoni alam yang menggema
harmoni dalam rimba ini. Namun juga notabene kerap terabaikan karena
hiruk-pikuk keseharian kita. Tak cukup sampai di sana, alam seolah tengah
memamerkan keelokannya melalui desir angin sejuk yang sarat akan oksigen. Ah,
tak perlulah kubeberkan lagi pengetahuan dasar bahwa itu semua berkat kerja
keras pepohonan hijau tinggi menjulang sampai tumbuhan bawah yang hidup saling
menopang di sini. Bahkan bagian batang dan tungkul akar tanaman mati serta
terendam air sungai yang teronggok ke permukaan bisa menjadi media tumbuh bagi
organisme perintis seperti lumut dan kemudian memberi tempat untuk para calon
pohon baru menumbuhkan tunas hijau mudanya.
Tak banyak menit pertama yang kuhabiskan untuk mengagumi
mahakarya yang tersaji di hadapan netraku itu. Bukan karena bosan tentunya.
Hanya, menit-menit berikutnya aku cukup sadar diri untuk mengklaim benar bahwa
semua ini tercipta untuk kaumku-manusia dan manusia untuk alam yang kemudian
mereka sebut azas saling ketergantungan.
Faktanya, ketika seseorang bertanya: “Apa yang manusia butuhkan dari alam?” Aku
bisa menguraikan banyak hal: udara, air, makanan, pakaian, atau bahkan hampir
segala hal yang kami perlukan. Namun saat pertanyaan itu dibalik versi:
“Apa yang alam butuhkan dari manusia?” Logikaku terdiam.
Sebab pada hakikatnya, alam adalah sempurna tanpa si penebang illegal, si pembakar hutan yang mengatasnamakan kebutuhan pangan bersama untuk memenuhi lumbung para buncit penerima suap, para penyebab menumpuknya gas rumah kaca di atmosfer, dalang dibalik meningkatnya suhu global hingga kepunahan biodiversitas, atau haruskah kusebut Parasit Semesta? Ya, tidak salah lagi. Mahkluk yang menyebut dirinya sebagai makhluk dengan derajat tertinggi yang berakal budi -manusia- itulah yang justru berhutang banyak pada alam. Tahu, bagian terburuk dari itu semua apa? Menyadari kebenaran bahwa aku yang tengah menikmati estetika tadi, juga bagian dari mereka.

Terbaik memang 🔥🔥
BalasHapusTerima kasih 🙏
HapusMantap kak..
BalasHapus_helenpunakatamu_
Thank you kk Helena❤️
HapusNtapss
BalasHapusMakasih Tulang😇
HapusWahhh keren sekali adekku
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusBu Rya*🙏
Hapus